Kilas Bandung, Kamis (23/8/2018)

KilasBandung – Saat ini Pemerintah terus melakukan sosialisasi penjualan Saving Bond Ritel atau Surat Utang Seri 004. Analis Senior Kementrian Keuangan Republik Indonesia┬áNana Riana menuturkan, ada empat keuntungan yang bisa diperoleh masyarakat jika membeli Saving Bond Ritel (SBR) di antaranya jaminan keamanan berinvestasi, imbal hasil menarik, proses investasi mudah dan ikut berkontribusi dalam membangun negara. Pemerintah berharap melalui penjualan SBR004 bisa meraup dana lebih dari Rp1,9 triliun.

Pemerintah secara resmi menawarkan instrumen Savings Bond Ritel seri SBR004 pada hari Senin lalu, dengan instrumen yang ditawarkan secara online untuk memperdalam pasar keuangan sekaligus basis investor ritel Indonesia. Perwakilan dari Mitra Usaha Indonesia Group atau Modalku, Adisto menjelaskan, pihaknya menjadi salah satu yang ditunjuk sebagai perusahaan fintech peer to peer lending, yang menjadi mitra distributor pemasaran SBR seri SBR004. Menurutnya, dengan penunjukkan tersebut, pihaknya mengharapkan penjualan surat utang negara itu, bisa terjual sebanyak-banyaknya, terutama bagi kalangan milenial.

Pemerintah Kota Bandung mulai melakukan pembangunan perpanjangan Sky Walk yang ditandai dengan ground breaking oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil. Menurut Wali Kota, pembangunan sky walk tahap kedua sepanjang 250 meter dengan konstruksi maupun kegunaannya yang sama dengan sky walk tahap pertama. Rencananya sky walk akan diperpanjang sampai ke Cikapayang Dago, agar pengunjung atau para wisatawan bisa berjalan kaki dari Dago ke Cihampelas.

Hari Raya Idul Adha, identik dengan tradisi menyantap makanan berbahan dasar daging sapi atau kambing. Kondisi ini terkadang menyebabkan sebagian dari masyarakat sakit pada pencernaan dan kepalanya, akibat terlalu banyak menyantap daging, yang banyak mengandung koleterol. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengajak masyarakat untuk tetap sehat meski makan berbagai olahan daging. Antara lain mengkonsumsi daging kurban yang diimbangi dengan makanan lainnya dan tetap berolah raga.

Dosen sekaligus praktisi budaya Sunda Bah Nanu menegaskan, nama festival mengandung makna tuntutan kreativitas. Jadi setiap ada gelaran festival kesenian tradisional, selayaknya bertujuan untuk menggugah kreativitas, seperti pada Festival Reak yang baru-baru ini digelar di Kota Bandung. Bah Nanu menjelaskan, agar tetap hidup dan berkembang kesenian tradisional itu harus berinovasi tanpa meninggalkan keasliannya sehingga tidak hanya sebagai tontonan belaka tetapi juga sebagai ajang kreatifitas juga objek penelitian.