PKL Teras Cikapundung Bandung, Antara Sepi Pembeli dan Modal Terkuras

(Sumber : news.detik.com)

KILASBANDUNGNEWS.COM – Pelonggaran PPKM Level 4 bagi masih belum berdampak manis kepada para pedagang kaki lima (PKL) di Teras Cikapundung Barat, Kota Bandung. Dari 104 pedagang, hanya 5 pedagang yang baru membuka lapaknya.

Selasa 27 Juli 2021, malam itu selepas magrib, tak banyak warga yang melintas di Teras Cikapundung Barat. Padahal, pada PPKM Level 4 ini, kawasan Asia Afrika dan sekitarnya baru ditutup pada pukul 21.00 WIB.

Keramaian yang dulu muncul sejak diresmikan pada 25 Januari 2020 lalu, masih belum kembali menggeliat. Di antara kios-kios yang berderet di dalam gelapnya malam, terlihat sejumlah pedagang tengah membereskan lapak dagangannya. Sementara yang lainnya masih bertahan walau masih sepi pelanggan.

Koordinator PKL Teras Cikapundung Barat Nandang Mulyana mengatakan, sejumlah pedagang masih kebingungan untuk memulai kembali berdagang. Pasalnya, modal mereka terkuras untuk memenuhi kebutuhan hidup selama pembatasan kegiatan ini dilakukan.

“Kalau secara keseluruhan 104 pedagang, yang dagang baru lima. Belum ada setengahnya, mereka juga kebingungan kalau mau mulai, mereka juga terbentur modalnya,” ujar Nandang saat ditemui detikcom.

“Sampai malam (pukul 21.00 WIB) itu dibuka, tapi sepi. Tidak ada orang yang lewat,” kata Nandang.

Ia pun menilai kebijakan pemerintah yang menetapkan agar pengunjung bisa makan di tempat dengan waktu maksimum 20 menit cukup memberatkan. Pasalnya, proses masak-memasak bisa memakan waktu lebih dari 10 menit.

“Kan kalau 20 menit itu enggak akan cukup waktunya,” ujar Nandang.

Hal senada disampaikan Elly Hediana, salah seorang pedagang di Teras Cikapundung. Dia baru kembali berdagang dalam dua hari terakhir.

“Saya baru buka dua hari, masih sepi mungkin orang masih ketakutan untuk keluar. Kemarin Jalan Cikapundung ini ditutup jam enam sore, sekarang ditutup jam sembilan tapi masih sepi,” ujar Elly.

Elly mengaku, ia harus membuka lapaknya lebih siang untuk menyiasati waktu ditutupnya jalan. Pada waktu normal, ia baru membuka lapaknya jam setengah lima sore hingga jam satu malam.

“Sekarang kita buka jam setengah empat, sehingga jam 9 malam kita sudah siap-siap untuk ,menutup lapak, ikhtiar sudah kita lakukan dengan memasang bendera putih, tapi konsumen belum stabil, har ini pun baru tiga orang pembeli yang datang,” katanya.

Diakuinya kondisi yang terjadi belakangan ini cukup memberatkan bagi pedagang kecil sepertinya. Pasalnya, ia dan suaminya harus menghidupi delapan anggota keluarganya yang lain dari usaha kuliner yang dirintisnya bersama suami.

“Kalau dulu biasanya kita bisa habiskan ayam 20 sampai 25 ekor, sekarang dua ekor ayam juga belum ada,” katanya. (Sumber: newsdetik.com)